Part 2 - Oriental Food Festival- Swiss-Belhotel Yogyakarta

Masih liputan dari acara Oriental Food Festival (ala-ala reporter tipi kabel). Langkah kaki saya menapak ke depan tempat hidangan penutup di pajang. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah Baesuk. Apa itu Baesuk? Baesuk (baca isuk) adalah makanan tradisional korea. Makanan ini merupakan salah satu menu yang dihidangkan sebagai makanan penutup, ketika ada perayaan di Korea. Baesuk masuk ke dalam makanan kerajaan, yang selalu ada disajikan ketika ada upacara-upacara penting. Makanan ini bahan dasarnya terbuat dari Pear Korea. Isian atasnya berisi kismis, sukade, madu, gula, jahe dan rasa kayu manis yang berpadu seru ketika digigit. Sungguh rasa yummy segar yang membuat lidah tak berhenti mencecap. Bedanya dengan Besuk yang asli, Swiss-Belhotel Yogyakarta menyajikannya dengan buah apel, Chef Reynaldi mengatakan terasa lebih segar menggunakan buah apel, karena buah pear memiliki banyak kandungan air.




Di sebelah Baesuk ada Hwagwaja si cokelat berlumur gula putih. Chef Reynaldi mengatakan Adonannya mirip seperti adonan donat yang diuntir atau dikepang kecil, lalu atasnya diberi taburan gula halus. Enak enak enak enak, beneran rasanya mirip donat hanya bentuknya yang mirip kepang membuat Hwagwaja jadi terlihat besar dan unik.



Bersebelahan dengan Hwagwaja, ada Tteok, jika di Indonesia sebutannya kue Moci. Kedua makanan imut ini sama-sama berbahan dasar tepung beras ketan. Kenyal-kenyal lumer di lidah. Di Korea kue ini memiliki cita rasa yang manis, isian di dalamnya berupa kacang-kacangan sama seperti kue moci. Tteok merupakan makanan terkenal sebagai jajanan, ya seperti Indonesia yang punya jajanan pasar. Ttteok juga sering digunakan sebagai makanan yang tepat untuk oleh-oleh. Swiss-Belhotel Yogyakarta menyajikan Tteok dengan warna putih, isian di dalamnya berupa kacang almond dan kacang tanah, makanan ini memang menggoyang lidah, karena isian di dalamnya gurih dan renyah.Enyoi sempurna!










Kemudian saya menuju bagian Salad, Menemukan Sangchu Geotjeori/Sangchoo Geotjeori
(상추 겉절이) dalam Bahasa Inggris berarti Korean Lettuce Salad dan dalam Bahasa Indonesia Salad Selada Korea. Swiss-Belhotel menyajikannya dengan rasa yang spesial, isian di dalamnya ada selada merah, daun aragula, pokcoy, dan khusu dressingnya menggunakan BBQ saus yang terasa asam, manis, dan pedas. Uhmm nampaknya salad ini cocok untuk ibu-ibu yang sedang ngidam hihihi…




Lanjut masih di dunia persilatan eh persaladtan saya berjumpa Cucumber and Wakame Seaweed Korean Salad ini kecil dan menggemaskan. Penampakannya manis dan sekali lahap, rumput laut wakamebahan baku utama sala, dibentuk seperti bunga mawar, beralaskan tomat dan potongan ketimun kemudian ditaburi wijen di atasnya, sungguh cantik. Bagi yang tidak suka aroma amis, pasti tidak akan mau melibas salad kecil ini. Tapi begitu saya, hap, waww rasa rumput laut yang asli, kenyal, segar, ada asinnya, namun juga mudah dikunyah dan tertelan lancar ke tenggorokan saya. Glegek, enyakkk bingget ahhhh



Kimchi, ahayy makanan yang satu ini sudah sering bersliweran di drama korea manapun. Ketika adegan makan, selalu ada kimchi di meja. Bahkan kebersamaan dan kehangatan keluarga dapat dimunculkan dengan cara membuat kimchi bersama-sama. Kimchi adalah makanan wajib orang Korea, selalu ada terhidang di meja. Jika di Indonesia kimchi layaknya krupuk atau sambal, atau acar. Makanan tambahan yang melezatkan makanan utama. Bahan utama kimchi ada yang berasal dari lobak maupun sawi putih. Kimchi masuk deretan makanan sehat dunia. Rasanya dominan asam dan pedas-pedas segar. Kimchi proses pembuatannya melalui fermentasi, semakin lama fermentasinya akan semakin enak. Kimchi instan sudah tersedia di supermarket-supermarket terdekat. Saya sendiri punya harapan jika suatu saat memiliki kesempatan berkunjung ke Korea, lidah saya sudah bisa menyesuaikan dengan makanan Korea. Minimal cobalah makan mie rebus kemudian ada kimchi di sebelahmu sebagai pelengkap, ahh nikmatnya, kemudian bayangkan kamu menjadi salah satu tokoh drama korea favoritmu yang sedang makan kimchi (haha mulai berlebihan) 



Lanjut, petulangan saya masih berjalan, saya menuju satu pojokan yang ditunggu oleh chef ramah bernama Chef Tyo. Terpasang tulisan “beef bulgogi dimasak dadakan” hehehe. Chef yang penuh senyum itu, memproses beef bulgogi dengan lincah dan cepat srengg srenggg srenggg dan jadiii. Saya pun berkesempatan memotretnya ketika sedang memasak. Mengagumkan ketika saya cicipi si beef bulgogi, rasanya enak, juicy, dan kaya rasa, dagingnya matang sempurna, ditambah bawang Bombay, paprika merah dan hijau yang membuat daging terasa enyoi enyoi di lidah. (Macam tahu bulat). Sempurna!


So perjuangan saya meniti tangga makanan masih berlanjut di Part 3, nantikan…

Komentar