Senin, 25 Juli 2016

“If you don’t read, you don’t write”

Kata-kata “If you don’t read, you don’t write” diungkapkan oleh Pater Bolsius Sj, antara membaca dan menulis tentu ada unsur “perjuangannya”. Menurut Romo Jb Mangunwijaya (alm) di majalah sastra Horison (XXI/365-367) mengemukakan, bahwa Pengarang dan Penulis diandaikan penuh (secara relatif) oleh pengetahuan, apa pun itu. Kalau dia “diisi” (dalam arti membaca) pasti lama-lama akan ada yang “luber”. Maksudnya dibagikan kepada khalayak ramai melalui media massa cetak 

Njuk pie nek ngunu kui, berarti nek jarang nulis kui berarti otakke ra luber alias ra tau moco #ehh (ngomong sama diri sendiri, yang beberapa bulan ini numpukin buku, tapi banyak yang belum dibaca). Ahh benar kata orang jika membaca membuka jendela dunia, yang penting jangan membuka jendela tetangga sajalah (haha atos).

Ada buku fiksi yang akan saya share disini, buku lama sih, tapi yaa lumayan lhah buat direview, gara-gara menemukan buku ini, dengan cover terlihat usang, baru ingat, pernah dipinjem temen dan nih buku diujan2in (kalo inget bikin kesel, minjemin buku sama orang yang kurang bertanggung jawab). Ini buku Dewi Lestari yang saya baca pertama kali dan saya menonton 2 kali filmnya karena memang filmnya terbagi menjadi 2 part, yap Perahu Kertas. Biasanya saya jarang baca buku-buku jenis begini, entah kenapa saya lebih senang gaya bahasa Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu, yang sebagian isinya tentang feminisme, saru tapi asyik bicara soal perempuan dan kehidupannya. Perahu Kertas membuat saya melompat. Bahasanya ringan, benar-benar cerita fiksi yang manis. Cerita cinta anak muda, dipadu konflik dalam keluarga, cita-cita, mimpi dan tentunya kejujuran.

Cerita dimulai ketika Kugi si kecil yang super tomboy dan urakan ini bertemu dengan Keenan. Keenan si pelukis yang baru datang dari Belanda begitu takjub ketika melihat Kugy yang aneh, Kugy pun terkagum-kagum melihat Keenan, karena ternyata radar Neptunus andalannya tepat sasaran hingga mempertemukan mereka untuk pertama kali di Bandung. Kugy pun beruntung memiliki sahabat yang baik seperti Noni, yang mau menyiapkan segala keperluannya di Bandung, hingga mereka pun tinggal 1 kostan.
Semakin lama, Kugy dan Keenan semakin dekat seperti radar yang saling terkoneksi. Keduanya sama-sama Aquarian (me too hehehe halah baper) sama-sama utusan Neptunus. Itulah yang selalu dipercaya Kugy, setiap kali melakukan permohonan, atau ketika ada permasalahan ia selalu curhat ke Neptunus, dengan cara melarung surat kepada Neptunus yang telah dilipat menjadi bentuk perahu kertas. Kugi mencari sungai terdekat dan membiarkan perahu kertasnya mengalir bersama air, Kugy selalu percaya “Nus” (panggilan Kugy untuk Neptunus) selalu membaca surat-suratnya.

Singkat cerita (kalau mau lengkap baca bukunya) Kugy, Keenan, Noni dan Eko pacar Noni, yang juga merupakan teman Kugy dari SMP menjadi 4 sekawan. Agenda menonton midnight pun tak pernah terlewat. Konflik mulai muncul di pertengahan kuliah, ketika Kugy mulai terlibat percekcokan dengan Ojos kekasihnya. Masalah yang muncul antara Kugy dan Ojos, menyebabkan Kugy pun harus menghilangkan perasaannya terhadap Keenan, karena saat itu Noni sedang sibuk-sibuknya menjodohkan Keenan dengan Wanda anak dari pemilik Galeri Lukis besar di Jakarta.

Keenan pun terlibat konflik dengan ayahnya  terkait dengan keinginannya bertemu dengan teman Ibunya di Bali yang seorang pelukis dan ternyata (jeng-jeng ala2 sinetron) adalah mantan kekasih ibunya di masa lalu. Poyan(Pak Wayan) adalah nama panggilan lelaki masa lalu Ibu Keenan. Ayah Keenan melarang keras hingga terjadi perdebatan yang tidak dapat dihindarkan. Sementara Kugy terus bertarung dengan batinnya, hingga ia menyibukkan diri di Sakola Alit dan lebih memilih putus dengan Ojos. Konflik bertambah ketika Kugy tidak datang ke ulang tahun Noni karena perasaannya sendiri serta enggan bertemu Wanda dan Keenan yang saat itu dijodohkan Noni. Ketidakhadiran Kugy berbuntut panjang, hingga mengakibatkan hubungan persahabatan mereka retak, Kugy pindah kos dan semakin sibuk aktif di Sakola Alit.

Ke empat2nya menghilang dengan kesibukan masing-masing, Eko masih memantau Kugy dari jauh. Hingga ternyata Kugy menyelesaikan skripsinya lebih cepat dari perkiraan dan segera Magang di sebuah perusahaan bernama Avocado. Sudah bisa tertebaklah, Remi pemilik Avocado jatuh cinta pada Kugy (ini bagian yang saya suka, lebih baik Kugy sama Remi *menurut saya* dibanding masih kepikiran Keenan yang tidak jelas dimana rimbanya saat itu). 


Dan akhirnya mereka hidup bahagia selamanya, hahaha enggaklah… saya males nyeritain akhirnya, soalnya akhirnya tidak sesuai keinginan saya. Udah ah nulis seriusnya besok lagi, ini pemanasan biar otaknya ga tumpul.