Selasa, 17 Mei 2016

Kelingan Sek Mbiyen-Mbiyen (KLBB)



Menemukan kembali kronologi uploadan foto lama di facebook saya ketika naik gunung, serasa membangunkan kenangan. Ketika saya lihat lagi kronologi status-status yang saya tulis di facebook dulu, saya merasa bebas sekali membacanya membuat saya jadi malu sendiri. Apa yang saya rasakan langsung saya tuliskan tanpa pikir panjang, saya tidak perlu like saya tidak perlu komentar. Ahhh saya jadi KLBB (Kelingan Sek Mbiyen-Mbiyen) kembali lagi ke persoalan naik gunung, naik gunung bagi saya adalah suatu pengalaman yang menyenangkan, memacu adrenalin, menguji fisik dan mental saya. Dulu saya tidak pernah memikirkan soal dipamerkan atau diposting, masalah like tidak begitu menjadi target saya, makanya saya tidak banyak mengupload foto naik gunung saya. Karena saya tidak seambisius kawan 1 divisi gunung hutan yang berikutnya kini lebih hobi ngarung jeram dibanding naik gunung hooh ra @acha mazaya. Acha Mazaya gadis lincah ini, dulu punya target beberapa gunung yang mau didaki, sementara saya tidak pernah ada target (sorry cha gawa2 jenengmu). 

Naik gunung kini jadi sesuatu yang hits dan keren bagi sebagian orang. Generasi like sekarang ini ingin menunjukkan eksistensi dengan berbagai macam cara entah cara yang positif maupun yang negatif, salah satunya melalui posting foto yang dianggap keren dan kontroversial sehingga menambah jumlah like di media sosial. 

Trus kalau ada yang bertanya ke saya? Buat apa naik gunung, ya buat saya semacam menguji diri saya, saya merasa kok! kalau saya ini orang yang betah tinggal dalam kenyamanan. Maka, saya butuh breakthrough saya butuh lompatan saya butuh sesuatu yang menguji saya, saya butuh didesak, saya perlu merasakan bagaimana rasanya terdesak, saya perlu saya perlu itu. Ahh lagi-lagi ahh naik gunung dan statusisasi kini begitu menjamur. Saya tidak pernah membuat list kemana saja saya perlu naik gunung, semua berjalan spontan karena bagi saya naik gunung lebih kepada urusan mengalahkan diri saya sendiri. Mengutip musikalisasi puisi Sapardi Djoko Damono “Mencintai air harus menjadi ricik, mencintai angin harus menjadi siut, mencintai gunung harus menjadi terjal”. Mungkin persoalan naik gunung seperti soal percintaan, mencintai gunung harus menjadi terjal, saya menerjemahkannya semacam, gunung dan segala kesulitannya harus dihadapi. Seperti persoalan cinta apapun masalahnya harus dihadapi. Gunung indah dengan segala keindahannya, tapi ia juga terjal dengan segala keterjalannya, ia misterius dengan segala teka-tekinya. Maka, bagi saya naik gunung bukan sekedar gaya-gaya-an, naik gunung adalah cara saya merenung, cara saya bersyukur dan intropeksi betapa lemahnya saya. Betapa sombongnya saya jika saya berpikir saya naik gunung untuk menaklukannya. 1 lagi naik gunung mengajarkan saya untuk berteman dengan siapa saja tanpa pandang bulu, seperti alam yang senantiasa ada untuk manusia, oksigen ada untuk manusia yang baik dan juga jahat.