Rabu, 16 November 2016

Penyakit Wanita (Pria Perlu Tahu)



Buku Bijak Memahami Masalah Kesehatan Terkini ditulis oleh Profesor Zullies Ikawati, Ph.D., Apt., beliau merupakan pengajar di Universitas Gadjah Mada. Penulis meraih gelar doktornya di Ehime University School of Medicine Japan di bidang farmakologi. Buku ini padat dengan penyakit sehari-hari dilengkapi dengan gejala-gejalanya, cara mengatasi, cara pencegahan, dan isu-isu kesehatan terkini.
Penyakit pria dan wanita kini semakin beragam. Ada penyakit wanita yang juga dialami oleh pria, begitupun sebaliknya. Penyakit tidak melihat ia tua atau muda. Terkadang walaupun usianya masih relatif muda tetapi memiliki banyak keluhan kesehatan. Wanita banyak mengeluhkan gangguan sakit yang amat sangat  ketika menjelang menstruasi dan saat menstruasi. Wanita juga ada kalanya mengalami mentruasi yang tidak teratur. Gejala-gejala ini ternyata pada umumnya menunjukkan adanya masalah pada organ reproduksi. Penyakit yang sering dijumpai adalah endometriosis, mioma, dan kista yang hampir mirip tetapi saling tertukar pengertiannya. 

Endometriosis adalah suatu kondisi jaringan yang mirip dengan lapisan dinding rahim (yang mestinya hanya berada dalam rahim) ditemukan atau tumbuh di tempat lain dalam tubuh. Endometrium sendiri merupakan lapisan yang melapisi rongga rahim dan dikeluarkan berkala saat menstruasi sebagai darah haid. Mioma tepatnya mioma uteri adalah tumor jinak dari otot rahim, berdasarkan letaknya mioma uteri bisa dibagi menjadi 3, yaitu mioma intramural (di dalam otot rahim), subserosa (di bawah lapisan, serous, menonjol ke arah rongga perut), dan submukosa (menonjol ke arah rongga rahim). Mioma bervariasi dalam ukuran dan jumlah, kebanyakan mioma tidak menimbulkan gejala. Hanya 25% dari mioma menimbulkan gejala dan perlu perawatan medis. Kemudian, kista ovarii adalah kantung berisi cairan, yang bisa kental seperti gel (mukus/lendir), atau bisa juga cair (serous). Kista ini diproduksi oleh kelenjar-kelenjar yang ada di ovarium, yang tidak bisa dikeluarkan. (Halaman 50)

Wanita tidak menyadari bahwa gejala-gejala nyeri berkaitan dengan penyakit dalam organ reproduksinya. Wanita seringkali menganggap bahwa ini adalah hal lumrah yang dialaminya. Jika para wanita menyadari gejala-gejala yang timbul maka hal-hal yang tidak diinginkan dapat dicegah sejak dini.
Gejala dari endometriosis, kista, dan mioma yang dialami wanita hampir mirip satu sama lain, yang paling sering terjadi adalah nyeri di area perut bawah dan nyeri panggul. Rasa sakit perempuan lebih sering berhubungan dengan siklus menstruasi. Sebagian wanita, walaupun tidak semua orang, rasa sakit yang muncul bisa terasa sangat berat sehingga tidak dapat melakukan kegiatan sehari-hari. Nyeri ini bisa dirasakan sebelum menstruasi, selama menstruasi, dan setelah menstruasi; selama ovulasi, buang air kecil, selama atau setelah hubungan seksual, dan di daerah punggung bawah. Gejala lainnya seperti diare, sembelit, dan perut kembung (khususnya sehubungan dengan menstruasi), pendarahan berat, tidak teratur, dan kelelahan. Gejala terkenal lain yang berhubungan dengan endometriosis adalah infertilitas. Diperkirakan 30-40% perempuan dengan endometriosis mengalami kekurang-suburan. Langkah medis yang sebaiknya ditempuh untuk memastikan gangguan-gangguan ini adalah melalui pemeriksaan USG atau laparoskopi (halaman 52)

Melihat paparan tersebut, kita menyadari bahwa penyakit yang dialami oleh wanita penyebab pastinya tidak diketahui, ada dugaan faktor genetik. Tapi kesemuanya sangat berkaitan erat dengan hormon estrogen wanita, dan ini terjadi ketika wanita dalam usia reproduktif, saat kadar estrogen meningkat, saat ovulasi, dan kehamilan. Pembahasan setiap bagian buku selalu disertakan selipan pendek yang merupakan hal yang dialami penulis dan lingkungan penulis, sehingga dapat memberikan rangsangan kita untuk terus menjaga kesehatan.

Judul               : Bijak Memahami Masalah Kesehatan Terkini
Penulis            : Profesor Zullies Ikawati, Ph.D., Apt.,
Penerbit           : Kanisius
Terbit              : 2016
Tebal               : 204  Halaman
ISBN               : 978-979-21-4908-1

Dimuat di Koran Jakarta http://www.koran-jakarta.com/mengenali-berbagai-penyakit-sekitar-rahim/

Minggu, 11 September 2016

Risau


Kau sedang merajut
Aku sedang meraut
Kau masih surut
Aku pergi ke laut

Ya! Tersenyumlah
Seperti yang sudah-sudah
Aku tertawa
Kau menerka

Aku rapuh
Ya! aku jenuh
Aku terbentur
Ya! aku mundur

Senin, 25 Juli 2016

“If you don’t read, you don’t write”

Kata-kata “If you don’t read, you don’t write” diungkapkan oleh Pater Bolsius Sj, antara membaca dan menulis tentu ada unsur “perjuangannya”. Menurut Romo Jb Mangunwijaya (alm) di majalah sastra Horison (XXI/365-367) mengemukakan, bahwa Pengarang dan Penulis diandaikan penuh (secara relatif) oleh pengetahuan, apa pun itu. Kalau dia “diisi” (dalam arti membaca) pasti lama-lama akan ada yang “luber”. Maksudnya dibagikan kepada khalayak ramai melalui media massa cetak 

Njuk pie nek ngunu kui, berarti nek jarang nulis kui berarti otakke ra luber alias ra tau moco #ehh (ngomong sama diri sendiri, yang beberapa bulan ini numpukin buku, tapi banyak yang belum dibaca). Ahh benar kata orang jika membaca membuka jendela dunia, yang penting jangan membuka jendela tetangga sajalah (haha atos).

Ada buku fiksi yang akan saya share disini, buku lama sih, tapi yaa lumayan lhah buat direview, gara-gara menemukan buku ini, dengan cover terlihat usang, baru ingat, pernah dipinjem temen dan nih buku diujan2in (kalo inget bikin kesel, minjemin buku sama orang yang kurang bertanggung jawab). Ini buku Dewi Lestari yang saya baca pertama kali dan saya menonton 2 kali filmnya karena memang filmnya terbagi menjadi 2 part, yap Perahu Kertas. Biasanya saya jarang baca buku-buku jenis begini, entah kenapa saya lebih senang gaya bahasa Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu, yang sebagian isinya tentang feminisme, saru tapi asyik bicara soal perempuan dan kehidupannya. Perahu Kertas membuat saya melompat. Bahasanya ringan, benar-benar cerita fiksi yang manis. Cerita cinta anak muda, dipadu konflik dalam keluarga, cita-cita, mimpi dan tentunya kejujuran.

Cerita dimulai ketika Kugi si kecil yang super tomboy dan urakan ini bertemu dengan Keenan. Keenan si pelukis yang baru datang dari Belanda begitu takjub ketika melihat Kugy yang aneh, Kugy pun terkagum-kagum melihat Keenan, karena ternyata radar Neptunus andalannya tepat sasaran hingga mempertemukan mereka untuk pertama kali di Bandung. Kugy pun beruntung memiliki sahabat yang baik seperti Noni, yang mau menyiapkan segala keperluannya di Bandung, hingga mereka pun tinggal 1 kostan.
Semakin lama, Kugy dan Keenan semakin dekat seperti radar yang saling terkoneksi. Keduanya sama-sama Aquarian (me too hehehe halah baper) sama-sama utusan Neptunus. Itulah yang selalu dipercaya Kugy, setiap kali melakukan permohonan, atau ketika ada permasalahan ia selalu curhat ke Neptunus, dengan cara melarung surat kepada Neptunus yang telah dilipat menjadi bentuk perahu kertas. Kugi mencari sungai terdekat dan membiarkan perahu kertasnya mengalir bersama air, Kugy selalu percaya “Nus” (panggilan Kugy untuk Neptunus) selalu membaca surat-suratnya.

Singkat cerita (kalau mau lengkap baca bukunya) Kugy, Keenan, Noni dan Eko pacar Noni, yang juga merupakan teman Kugy dari SMP menjadi 4 sekawan. Agenda menonton midnight pun tak pernah terlewat. Konflik mulai muncul di pertengahan kuliah, ketika Kugy mulai terlibat percekcokan dengan Ojos kekasihnya. Masalah yang muncul antara Kugy dan Ojos, menyebabkan Kugy pun harus menghilangkan perasaannya terhadap Keenan, karena saat itu Noni sedang sibuk-sibuknya menjodohkan Keenan dengan Wanda anak dari pemilik Galeri Lukis besar di Jakarta.

Keenan pun terlibat konflik dengan ayahnya  terkait dengan keinginannya bertemu dengan teman Ibunya di Bali yang seorang pelukis dan ternyata (jeng-jeng ala2 sinetron) adalah mantan kekasih ibunya di masa lalu. Poyan(Pak Wayan) adalah nama panggilan lelaki masa lalu Ibu Keenan. Ayah Keenan melarang keras hingga terjadi perdebatan yang tidak dapat dihindarkan. Sementara Kugy terus bertarung dengan batinnya, hingga ia menyibukkan diri di Sakola Alit dan lebih memilih putus dengan Ojos. Konflik bertambah ketika Kugy tidak datang ke ulang tahun Noni karena perasaannya sendiri serta enggan bertemu Wanda dan Keenan yang saat itu dijodohkan Noni. Ketidakhadiran Kugy berbuntut panjang, hingga mengakibatkan hubungan persahabatan mereka retak, Kugy pindah kos dan semakin sibuk aktif di Sakola Alit.

Ke empat2nya menghilang dengan kesibukan masing-masing, Eko masih memantau Kugy dari jauh. Hingga ternyata Kugy menyelesaikan skripsinya lebih cepat dari perkiraan dan segera Magang di sebuah perusahaan bernama Avocado. Sudah bisa tertebaklah, Remi pemilik Avocado jatuh cinta pada Kugy (ini bagian yang saya suka, lebih baik Kugy sama Remi *menurut saya* dibanding masih kepikiran Keenan yang tidak jelas dimana rimbanya saat itu). 


Dan akhirnya mereka hidup bahagia selamanya, hahaha enggaklah… saya males nyeritain akhirnya, soalnya akhirnya tidak sesuai keinginan saya. Udah ah nulis seriusnya besok lagi, ini pemanasan biar otaknya ga tumpul.

Selasa, 17 Mei 2016

Kelingan Sek Mbiyen-Mbiyen (KLBB)



Menemukan kembali kronologi uploadan foto lama di facebook saya ketika naik gunung, serasa membangunkan kenangan. Ketika saya lihat lagi kronologi status-status yang saya tulis di facebook dulu, saya merasa bebas sekali membacanya membuat saya jadi malu sendiri. Apa yang saya rasakan langsung saya tuliskan tanpa pikir panjang, saya tidak perlu like saya tidak perlu komentar. Ahhh saya jadi KLBB (Kelingan Sek Mbiyen-Mbiyen) kembali lagi ke persoalan naik gunung, naik gunung bagi saya adalah suatu pengalaman yang menyenangkan, memacu adrenalin, menguji fisik dan mental saya. Dulu saya tidak pernah memikirkan soal dipamerkan atau diposting, masalah like tidak begitu menjadi target saya, makanya saya tidak banyak mengupload foto naik gunung saya. Karena saya tidak seambisius kawan 1 divisi gunung hutan yang berikutnya kini lebih hobi ngarung jeram dibanding naik gunung hooh ra @acha mazaya. Acha Mazaya gadis lincah ini, dulu punya target beberapa gunung yang mau didaki, sementara saya tidak pernah ada target (sorry cha gawa2 jenengmu). 

Naik gunung kini jadi sesuatu yang hits dan keren bagi sebagian orang. Generasi like sekarang ini ingin menunjukkan eksistensi dengan berbagai macam cara entah cara yang positif maupun yang negatif, salah satunya melalui posting foto yang dianggap keren dan kontroversial sehingga menambah jumlah like di media sosial. 

Trus kalau ada yang bertanya ke saya? Buat apa naik gunung, ya buat saya semacam menguji diri saya, saya merasa kok! kalau saya ini orang yang betah tinggal dalam kenyamanan. Maka, saya butuh breakthrough saya butuh lompatan saya butuh sesuatu yang menguji saya, saya butuh didesak, saya perlu merasakan bagaimana rasanya terdesak, saya perlu saya perlu itu. Ahh lagi-lagi ahh naik gunung dan statusisasi kini begitu menjamur. Saya tidak pernah membuat list kemana saja saya perlu naik gunung, semua berjalan spontan karena bagi saya naik gunung lebih kepada urusan mengalahkan diri saya sendiri. Mengutip musikalisasi puisi Sapardi Djoko Damono “Mencintai air harus menjadi ricik, mencintai angin harus menjadi siut, mencintai gunung harus menjadi terjal”. Mungkin persoalan naik gunung seperti soal percintaan, mencintai gunung harus menjadi terjal, saya menerjemahkannya semacam, gunung dan segala kesulitannya harus dihadapi. Seperti persoalan cinta apapun masalahnya harus dihadapi. Gunung indah dengan segala keindahannya, tapi ia juga terjal dengan segala keterjalannya, ia misterius dengan segala teka-tekinya. Maka, bagi saya naik gunung bukan sekedar gaya-gaya-an, naik gunung adalah cara saya merenung, cara saya bersyukur dan intropeksi betapa lemahnya saya. Betapa sombongnya saya jika saya berpikir saya naik gunung untuk menaklukannya. 1 lagi naik gunung mengajarkan saya untuk berteman dengan siapa saja tanpa pandang bulu, seperti alam yang senantiasa ada untuk manusia, oksigen ada untuk manusia yang baik dan juga jahat.