Selasa, 28 Oktober 2014

Walk Slowly on the edge (side) of the Jakarta Road (Melipir neng Dalanane Jakarta)



Walk Slowly on the edge (side) of the Jakarta Road
 (Melipir neng Dalanane Jakarta)

Saya sendiri ketika mencoba menulis selalu tidak bisa menggunakan bahasa non formal yang benar-benar tidak formal, saya menyebut diri saya sendiri dengan “Saya” bukan dengan Gue ala-ala blognya Kaesang Pangarep putra ketiga Bapak Presiden Jokowi, atau menyebut diri dengan “Mammita” ala-ala sebutan Julia Perez kepada dirinya sendiri di Twitter, atau malah menyebut diri dengan “Eneng” seperti Saskia Gothik. Sumpah saya tidak bisa ber Loe Gue ketika menulis, atau bahkan ngomong sekalipun dengan gaya Betawian.
Beberapa bulan yang lalu, sempat tinggal di Jakarta tepatnya di Jakarta Barat karena mengerjakan study perilaku masyarakat perkotaan di sana. Dan itu tidak mengubah saya yang “Ndeso” ini menjadi lebih Ibu Kota, wong ternyata hampir pedagang-pedagang makanan di Jakarta isinya orang Jawa I mean orang Jogja, Klaten, Magelang dan kota-kota lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur. So, ketika jajan atau beli makanan, yo ngopo Loe Guenan seriuss aku ra iso malah mekso. Njuk nek Tumbas panganan maksud saya kalau saya beli makanan di Jakarta ya ngomongnya memakai Bahasa Jawa saja, tidak ribet dan yang diajak bicarapun karena sesama Jawa menjadi lebih akrab.
Orang Jawa dimanapun pasti selalu membawa keJawaannya dimanapun, Orang Jawa tidak akan terpisahkan  dari budaya yang ia terima sejak kecil. Begitupun saya, ketika saya datang ke Jakarta, ada hal yang saya tidak suka adalah. Ketika itu saya dan teman-teman saya sedang mencari kost-kostan di sekitar depan Universitas Trisakti di daerah Tanjung Duren Utara. Ketika itu kami memang datang dengan gaya ala backpacker, dengan tas backpack semi carrier dan beberapa kardus berisi bahan-bahan study kami di Jakarta. 
Waktu itu ada bapak-bapak tukang cendol yang dari logatnya saya tahu, dia adalah orang Betawi, saat saya dan teman saya lewat dia dengan kencangnya bilang “Noh, baru datang dari Kampung tuh! Dengan nada nyinyir meremehkan. Saya sempat kesal mendengarnya, tetapi kembali lagi saya baru saja datang di Jakarta dan saya tidak mau mencari masalah akhirnya dengan pasang tampang semanis mungkin saya jawab “ Iya kok pak saya dan teman-teman memang dari kampung, terimakasih pak”.
Orang pendatang dari manapun itu ketika datang selalu dikatai begitu oleh si Bapak, saya pernah mendengar beberapa kali dia selalu begitu,bukan hanya kepada saya dan teman-teman saya. Tetapi kepada anak-anak mahasiswa baru yang sedang mencari kost-kostan di Belakang Universitas Tarumanegara. Saya bukan rasis disini, tapi kata-kata Kampung! Yang diucapkan dengan Nada seperti itu menurut saya tidak pantas. 
Kita tidak boleh menyamaratakan memang. Orang Jawa yang dibilang sebagai orang yang punya tutur kata yang baik saja tidak bisa disamakan semuanya. Orang Jawa tetaplah orang Jawa yang lahir dalam individunya masing-masing (Kata prof.Magnis Suseno dalam bukunya Etika Jawa) begitu juga dengan Orang Betawi. Mungkin memang itu masalah pribadi si Bapak tukang Cendhol itu, bisa jadi ia adalah korban masyarakat yang gerah dengan semakin macetnya Jakarta. Bisa Jadi dengan cara membacot sedemikian rupa ia bisa mengungkapkan aspirasinya, dan Kekesalannya di kota yang semakin sumpek dan sulitnya mengais rejeki.
Kasihan Bapak cendhol itu, kalau seperti itu, banyak mahasiswa atau pendatang yang dikatai demikian olehnya. Bagaimana cendholnya bisa laris, bagaimana mahasiswa/mahasiswi yang disekitar situ yang tentunya rata-rata pendatang mau membeli kepada penjual yang sudah mengata-ngatai mereka seperti itu. Dan Bapak itu tetap tidak berubah, selama hampir 2 bulan di sana, saya menjadi tipikal orang Jakarta pada umumnya. Berangkat pagi pulang malam, berjalan kaki dari sky walk satu ke sky walk lainnya. Ketika butuh hiburan yang saya lakukan hanya nonkrong di Mall dekat Kost. Begitu terus, sampai akhirnya saya lupa sekitar saya, saya melupakan si Bapak Chendol kadang-kadang saking hanyutnya dalam euforia kesibukan Jakarta saya juga lupa makan dan lupa mandi #upssss semakin ngelantur ini hehehe
Ya sudah lah Apa yang kita tanam adalah Apa yang akan kita tuai nantinya”. Sekian Salam Damai.Salam Cendhol

Minggu, 26 Oktober 2014

MEMANJAT KEHIDUPAN


MEMANJAT KEHIDUPAN
Masa tua sewajarnya dihabiskan dengan berada di rumah, menghabiskan waktu bersama keluarga. Melihat cucu di rumah, menyiram tanaman, atau menikmati masa pensiun dengan mendengarkan musik-musik lawas. Betapa Indahnya hidup ketika tua, menghabiskan waktu bersama keluarga secara utuh. Tetapi itu semua mungkin klise dan hanya ada dalam angan-angan saja, karena ini jelas tidak berlaku bagi Marndinah, atau yang lebih akrab dipanggil Mbah Dabuk, diusianya yang menginjak 67 tahun, ia tetap aktif menekuni profesinya sebagai seorang Pemanjat Panggilan. Pekerjaan Mbah Dabuk adalah menjual jasa ‘memanjat’, ia memanjat pohon apa saja sesuai pesanan orang yang memanggilnya, tetapi pohon-pohon yang biasa ia panjat adalah pohon kelapa, pohon asam dan pohon melinjo.
Mbah Dabuk pun bergantung pada banyak atau tidaknya hasil buah pada si pohon yang ia panjat itu. Sistem pembayaran yang dilakukan pun variatif, terkadang Mbah Dabuk menerima uang atas jasanya memanjat dan memetik, terkadang bagi hasil atau kedua-duanya. Dalam 1 minggu Mbah Dabuk bisa memanjat 4-5 kali, dan dalam 1 minggu itu bisa 6-8 pohon yang ia panjat, tergantung sedang ramainya permintaan. Ada hari-hari dimana ia tidak memanjat yaitu hari apapun dengan pasaran Jawa Pahing dan Wage, ketika mungkin Mbah Dabuk pernah lupa maka akan ada hal buruk yang terjadi, seperti misalnya terjatuh dari pohon dan sebagainya.
Tinggal di rumah petak seukuran lebih kurang 6x4 meter. Beberapa bulan yang lalu ayahnya yang sudah tua sempat tinggal dirumahya, tetapi kini ayahnya tersebut sudah kembali ke keluarganya yang baru, hanya selama sakit saja ia tinggal menumpang di rumah Mbah Dabuk. Sekarang ia tinggal sendiri, anak Mbah Dabuk hanya 1 perempuan, tetapi anaknya tersebut juga jarang mengunjunginya. Mbah Dabuk dikenal sebagai orang yang rajin dan ngeyel (baca:keras kepala), bahakan jika tidak ada orderan memanjat, ia akan berkeliling dari 1 kebun ke ke kebun lainnya untuk melihat apakah ada pohon yang berbuah lebat yang bisa ia petik, tentunya melalui penawaran kepada si pemilik pohon tersebut.
Beberapa kali terjatuh dari Pohon ternyata tidak membuat Mbah Dabuk mendapatkan efek Jera, beberapa tetangga juga memberitahu untuk berhenti memanjat. Tetapi memang benar kata pepatah Jawa “Watuk diombeni obat Mari, nanging Watak iku angel”(Batuk diberi obat akan sembuh, tetapi Sifat sulit diubah). Ia semakin rajin bekerja, jika pagi memanjat maka siang dan sorenya ia gunakan untuk mencari buah gayam yang kadang ia konsumsi sendiri atau ia jual kembali ke pasar. Uang dari hasil memanjat pun diputar lagi oleh Mbah Dabuk untuk membeli Bambu yang nantinya akan dianyamnya menjadi Besek, dan keranjang Buah lalu ia jual lagi. Ia tidak pernah berhenti bekerja, semakin tua ia semakin produktif. Harusnya anak-anak muda yang masih sehat memiliki Tekad dan Kemauan seperti Mbah Dabuk, tidak menyerah dalam keterbatasannya sebagi seorang wanita.

Jumat, 24 Oktober 2014

“ADUH, AKU GENDUT!” Metamorfosa atau Semiotika


“ADUH, AKU GENDUT!”

“Aduh, aku gendut!” terlihat Fani sedang sibuk bercermin, sambil mengamati tubuhnya yang di dalam pandangan matanya tampak semakin gemuk. 

Gambaran diatas adalah bentuk ketakutan wanita yang sangat umum terjadi di Era yang semakin keras ini. Perubahan yang semakin menjadi ketika kita bertumbuh semakin besar. Badan semakin Gendut, kulit kurang putih atau kulit yang kusam. Apa yang terjadi hingga wanita sebegitu takutnya. Darimana wanita mendapatkan keinginan-keinginan itu. Ya, benar, Iklan di Televisi  dan Iklan di Media manapun yang selalu mengatakan tentang ketidaksempurnaan. Lagi-lagi ini adalah strategi para kapitalis untuk menguasai pasar dan agar produk-produk mereka laku dipasaran. Iklan mengatakan : Tubuh masih kurang baik, kurang sempurna, kurang putih dan kekurangan lain-lainnya dan kita harus memperbaikinya.
Bagaimana cara memperbaikinya?

Ya, tentu saja dengan membeli produk-produk yang ditawarkan, obat pelangsing dengan iming-iming herbal, peralatan olahraga yang dikabarkan dapat menghancurkan lemak dengan cepat, suntik putih, bantal penyangga payudara. Pesan-pesan tersebut akhirnya masuk dan merasuk ke dalam pikiran hingga diri sendiripunjadi mencari-cari kekurangan pada diri sendiri.

Akhirnya memang kaum perempuanlah yang paling mudah mendapat iming-iming janji dari sebuah iklan. Sebagian besar iklan dan program televisi yang menempatkan fokus pada berat badan ditujukan pada kaum perempuan . Kaum perempuan lebih mengkhawatirkan perihal berat badan daripada kaum laki-laki.

Dalam buku “Fat is a financial issue” terbitan tahun 2000, kaum perempuan yang gemuk, nilai bersih mereka kurang dari setengah nilai para rekan mereka yang lebih langsing. Perempuan yang “Menarik” memiliki suatu kelebihan finansial lain dan mereka menarik perhatian dan memilih menikah dengan laki-laki yang berpenghasilan tinggi.

-Kesimpulannya mau dibawa diri kita, disedot oleh daya magnet iklan dan kapitalisnya atau tetap mencintai diri kita apa adanya dengan merawat diri sewajarnya, Ladies. Jadi Metamorfosis apa yang kita mau dari gendut menjadi langsing, atau dari hitam menjadi putih, jadi apapun itu yang penting membawa pengaruh positif ya :p

Rabu, 22 Oktober 2014

MAKANAN MENJADI BAGIAN DARI GAYA HIDUP


MAKANAN MENJADI BAGIAN DARI GAYA HIDUP

Makan adalah kebutuhan dasar manusia, seperti yang sering disebut dengan sandang, pangan, papan. Pangan (Makanan) tentunya berkaitan dengan makan, di era yang semakin berkembang makanan sekarang menjadi semakin variatif, baik dari segi rasa, bentuk, warna. Makanan pun menjadi salah satu identitas suatu Negara ataupun suatu Daerah tertentu. Salah satu yang berkembang dengan pesat adalah sushi dan ramen dengan berbagai nama yang dibangun dan menjamur di tempat-tempat strategis di Kota Pelajar, Yogyakarta. Sushi sendiri merupakan makanan khas Negara Jepang, makanan sehat ini terbuat dari gulungan nasi, dengan nori(lembaran rumput laut) di bagian luarnya dan di dalamnya berisi sayuran seperti timun, wortel, dan lobak serta tentunya potongan salmon atau cumi-cumi segar. Bahan-bahan untuk pembuatan sushi ini tidak menggunakan MSG(Monosodium Glutamate) yang efeknya tidak baik untuk tubuh.
Makan dan Makanan dalam perkembangannya sekarang bukan hanya sebagai pemenuhan kebutuhan dasar tetapi sudah menjadi bagian dari gaya hidup, karena terkadang memilih makanan atau tempat makan karena alasan lain. Misalnya mencari tempat makan yang bergengsi, sehingga terkadang menomorduakan kebutuhan atau kadar gizi yang dibutuhkan tubuh. Makanan Tradisional khas Indonesia, masih bertahan dan tidak kalah di tengah badai makanan mancanegara, seperti nasi padang, nasi gudeg dan oseng-oseng mercon yang tidak pernah sepi pembeli setiap harinya. Makanan pendamping seperti jajanan pasar pun masih cukup banyak disukai seperti Klepon, mata kebo dan naga sari, bahkan makanan ini masih menjadi menu special coffe break atau snack-snack saat rapat.
Beberapa waktu yang lalu di Yogyakarta telah terselenggara Pasar kangen, di Taman Budaya Yogyakarta, yang berisi makanan-makanan tradisional seperti rawon, pepes, nasi wiwitan, serabi solo, berbagai macam jajanan pasar, dan banyak makanan Indonesia lainnya. Peminatnya pun beragam, Mahasiswa dan mahasiswi di Yogyakarta terutama, dan wisatawan luar negeri, juga warga Yogyakarta yang turut berpartisipasi dalam Pasar kangen ini. Festival-festival semacam ini perlu rutin diadakan agar generasi muda mengenal dan menyukai makanan tradisional yang merupakan bagian dari Budaya Indonesia khas negeri sendiri serta dapat melestarikan dan mempertahankannya.

KULIAH DAN KERJA SAMBILAN


KERJA SAMBILAN
MENAMBAH PENGALAMAN DAN RELASI
            Kuliah tentunya lekat dengan kehidupan kampus dan segudang kegiatan serta tugas-tugasnya. Kuliah dengan biaya yang variatif namun semakin bertambah tahun tidak dapat dipungkiri biayanya semakin meningkat, sebagai mahasiswa/mahasiswi apalagi yang datang dari perantauan tentunya masih mengandalkan kiriman dari orang tua dan berlomba-lomba mengejar beasiswa. Tetapi terkadang walaupun sudah mendapat biaya dari orang tua ada saja kekuarangan yang dirasakan.
            Inisiatif untuk kerja sambilan/paruh waktu pun muncul, demi menambah uang saku untuk fotocopy makalah, modul, tugas yang tentunya tidak sedikit, membiayai bahan bakar kendaraan ataupun untuk tambahan uang “nongkrong”(bersantai) bersama teman-teman, yang tidak tercakup dalam kiriman bulanan dari orang tua. Secara tidak sengaja manfaatnya pun didapat yaitu pengalaman bekerja, pagi kuliah, sore bekerja paruh waktu. Waktupun terasa sangat bermanfaat dan tidak terbuang percuma.
            Manfaat lainnya adalah uang yang didapat dari kerja paruh waktu dapat disisihkan untuk ditabung, untuk kebutuhan mendadak atau untuk meringankan biaya yang dikeluarkan oleh orang tua. Belajar dan bekerja itulah yang didapatkan, belajar dari pekerjaan yang dilakukan. Kerja sambilan pun dapat digunakan untuk membangun dan mencari relasi baru di dunia kerja, sehingga kitapun dapat belajar dari yang lebih berpengalaman. Akhirnya kerja paruh waktu memberi fungsi ganda dan membawa hal-hal positif bagi kita kedepannya setelah lulus kuliah, dan tidak kaget lagi dengan dunia kerja yang sebenarnya.